Jumat, 23 Maret 2012

Makalah Sosiologi Antropologi Pendidikan – Kebudayaan dan Peradaban

BAB I
PENDAHULUAN
Sebuah masyarakat adalah himpunan dari individu yang membentuk suatu kelompok sosial budaya. Pengalaman individu tak dipungkiri, itu adalah ahsil dari sebuah interaksi antar sesama dalam sebuah masyarakat. Interaksi ini melahirkan sebuah kebudayaansebagai icon dari masyarakat tersebut. Tak ada sebuah masyarakat manapun di dunia ini yang tidak memiliki budaya karena manusia adalah makhuk sosial. Kata Aristoteles, manusia adalah zoon politicon (manusia adalah binatang berpolitik), atau menurut istilah ilmu mantiq, ??????? ????? ???? (manusia adalah hewan –makhluk hidup- yang berakal).
Oleh karena kehidupan sosial budaya selalu melekat dan berpengaruh serta menjadi pedoman bagi setiap prilaku individu, maka tanpa masyarakat ia tidak dapat berkembang menjadi pribadi karena ikatan dalam kelompoknya merupakan urat nadi dalam hidupnya. Ibarat sampan tak berdayung atau sepeda tak berantai. Lebih konkret lagi diumpamakan sesosok manusia yang berkaki satu, bertangan satu, bertelinga satu, bermata satu, berlubang hidung satu, begitulah sebuah masyarakat terbentuk dari beberapa idividu dan satu individu tidak membentuk sebuah masyarakat.
Pada pembahasan berikut ini akan mengetengahkan apa itu kebudayaan, unsur-unsurnya, sifat hakikatnya, dan proses akulturasi budaya asing, serta perbedaannya dengan peradaban dan peradaban Islam. Yang kesemuanya dikolerasikan dengan pendidikan supaya para pendidik memandang perlu terhadap pemahaman sebuah kebudayaan yang tidak bisa diceraikan dari sebuah proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu kaderisasi generasi berbudaya dan beradab.
BAB II
PEMBAHASAN

Kebudayaan

Dilihat dari pengertian dari “Kebudayaan” dan “Peradaban” secara umum maka keduanya adalah hampir mirip akan tetapi sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Kebudayaan melahirkan peradaban dan peradaban lahir dari kebudayaan, dan tidak ada manusia yang tidak berbudaya karena tidak ada manusia yang hidup sendirian. Dari karena itulah maka sekelompok manusia yang membentuk masyarakat pasti melahirkan sebuah kebudayaan yang berkembang menjadi peradaban.
Kata ”kebudayaan” berasal dari (bahasa Sansekerta) buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata “budhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil yang harus didapatkannya dengan belajar, dan semua itu tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Senada dengan Koentjaraningrat adalah apa yang didefinisikan oleh Selo Soemardjan dan Soelaeman Soenardi, dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi (Jakarta:Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964), hal 113, merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, cipta, dan rasa masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.
“Kebudayaan” dalam bahasa Inggris disebut culture. Sebuah istilah yang relatif baru karena istilah ‘culture’ sendiri dalam bahasa Inggris baru muncul pada pertengahan abad ke-19. Sebelum tahun 1843 para ahli anthropologi memberi arti kebudayaan sebagai cara mengolah tanah, usaha bercocok tanam, sebagaimana tercermin dalam istilah agriculture dan holticulture.
Hal ini dapat dimengerti karena istilah culture berasal dari bahasa Latin colere yang berarti pemeliharaan, pengolahan tanah pertanian. Dalam arti kiasan kata itu juga diberi arti “pembentukan dan pemurnian jiwa”.
Seorang antropolog lain, E.B. Tylor (1871), dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture (New York; Brentano’s, 1924), hal 1, pernah mencoba memberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai yaitu; “Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggot masyarakat”.

Unsur-Unsur Kebudayaan

Unsur-unsur kebudayaan digolongkan kepada unsur besar dan unsur kecil yang lazimnya disebut dengan istilah culture universal karena di setiap penjuru dunia manapun kebudayaan tersebut dapat ditemukan seperti pakaian, tempat tinggal dan lain sebagainya. Beberapa orang sarjana telah mencoba merumuskan unsur-unsur pokok kebudayaan. Seperti Melville J. Herskovits, Bronislaw Malinowski, C. Kluckhohn dan Prof. Koentjaraningrat.
Melville J. Herskovitz menyebutkan ada empat unsur pokok kebudayaan, yaitu:
Alat-alat teknologi,
Sistem ekonomi
Keluarga, dan
Kekuasaan politik.
Bronislaw Malinowski menyatakan ada empat unsur pokok kebudayaan yang meliputi:
  • Sistem normma-norma yang memungkinkan kerja sama antar para anggota masyarakat agar menyesuaikan dengan alam sekelilingnya,
  • Organisasi ekonomi
  • Alat dan lembaga atau petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama), dan
  • Organisasi kekuatan (politik).
Kliucckhohn menyebutkan ada tujuh unsur kebudayan, yaitu:
  1. Sistem mata pencaharian hidup,
  2. Sistem peralatan dan teknologi,
  3. Sistem organisasi kemasyarakatan,
  4. Sistem pengetahuan,
  5. Bahasa,
  6. Kesenian, dan
  7. Sistem religi dan upacara keagamaan.

Sifat Hakikat Kebudayaan

Sifat hakikat kebudayaan adalah ciri-ciri khusus dari sebuah kebudayaan yang masing-masing masyarakat berbeda. Bagi masyarakat Barat makan sambil berjalan bahkan setengah berlari adalah biasa karena bagi mereka the time is money, berbeda dengan masyarakat Timur, jangankan makan sambil berjalan, makan berdiri saja sudah melanggar etika. ????? ????? ????? ?? (janganlah salah seorang dari kamu minum dalam keadaan berdiri). Namun, secara garis besar, seluruh kebudayaan yang ada di dunia ini memiliki sifat-sifat hakikat yang sama.
Sifat-sifat hakikat kebudayaan adalah sebagai berikut:
• Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat prilaku manusia.
• Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
• Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya.
• Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan.

Akulturasi Kebudayaan

Semua kebudayaan senantiasa bergerak karena ia dinamis karena sebaenarnya gerak kebudayaan adalah gerak manusia itu sendiri. Gerak atau dinamika manusia sesama manusia, atau dari satu daerah kebudayaan ke daerah lain, baik disengaja atau tidak seperti migrasi atau pengungsian dengan sebab-sebab tertentu. Dinamika ini membawa kebudayaan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain yang menyebabkan terjadinya akulturasi.
Proses akulturasi kebudayaan dalam sejarah umat manusia telah terjadi pada umat atau bangsa-bangsa terdahulu. Adakalanya kebudayaan yang dibawa dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat setempat dan adakalanya ditolak, bahkan ada sekelompok individu yang tetap tidak menerima kebudayaan asing walaupun mayoritas kelompok individu di sekelilingnya sudah menjadikan kebudayaan tersebut bagian dari kebudayaannya.
Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah:
o Unsur kebudayaan kebendaan seperti alat-peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya, contohnya adalah alat tulis-menulis yang banyak dipergunakan orang Indonesia yang diambil dari unsur-unsur kebudayaan Barat,
o Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar misalnya radio transistor yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat mass-media,
o Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk melengkapi pabrik-pabrik penggilingan.
Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh suatu masyarakat adalah misalnya:
Unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain,
Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok sebagian besar msayarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok yang lain.

Peradaban

Adapun istilah “peradaban” dalam bahasa Inggris disebut civilization. Istilah peradaban ini sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya yang berwujud unsur-unsur budaya yang halus, indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi.
Seperti yang diungkapkan Arnold Toynbee “The Disintegrations of Civilization” dalam Theories of Society, (New York, The Free Press, 1965), hal. 1355, peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.
Pengertian yang lain menyebutkan bahwa peradaban adalah kumpulan seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek).
Huntington memberi definisi bahwa peradaban adalah sebuah identitas terluas dari budaya, yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif. Berangkat dari definisi ini, maka masyarakat Amerika –khususnya Amerika Serikat- dan Eropa yang sejauh ini disatukan oleh bahas, budaya dan agama dapat diklasifikasikan sebagai satu peradaban, yakni peradaban barat.
Lebih lanjut Huntington menyatakan bahwa term “Barat”, secara universal, digunakan untuk menunjuk pada apa yang disebut dunia Kristen Barat. Dengan demikian, “Barat” merupakan sebuah peradaban yang dipandang sebagai “penunjuk arah” dan tidak diidentikkan dengan nama orang-orang tertentu, agama, atau wilayah geografis. Akan tetapi pengidentifikasian ini mengangkat peradaban dari historitas, wilayah geografis, dan konteks kulturalnya. Secra historis, peradaban Barat adalah peradaban Eropa, namun di era modern ini yang dimaksud dengan peradaban Barat adalah peradaban Eroamerika (Euroamerican) atau Atlantik Utara.
Mengenai pertentangan antara budaya Barat dan budaya Timur, Kun Maryati dan Juju Suryawaty menagatakan: “Dalam masyarakat dunia, ada pandangan yang menganggap budaya Barat sebagai budaya progresif atau maju yang sarat dengan kedinamisan (hot culture). Sebaliknya, budaya Timur diidentikkan dengan budaya yang dingin dan kurang dinamis (cold culture). Pertentangan ini cenderung Eropa-sentris sehingga mengakibatkan westernisasi di berbagai bidang kehidupan”.
Sebelum adanya peradaban Eroamerika yang menguasai dunia peradaban sekarang ini sudah barang tentu terlebih dahulu sudah ada peradaban yang disebut dengan peradaban dunia; kuno atau klasik pra-Islam. Di antara peradaban-peradaban itu adalah:
1. Peradaban Irak, di antara peradaban yang terpenting adalah Sumeria, Akkadia, Ayalamiyah, Babilonia, Asyuriah, dan Kaldaniah
2. Peradaban Syam, di antara peradaban yang terpenting adalah Amuriyah, Vinikia, Kan’an,. Aramiyah, Anbath, Tadmur, Ghassan, dan Munazarah
3. Peradaban Mesir, peradaban yang terpenting adalah peradabaan Fir’aun dan peradaban Heksus
4. Peradaban Yaman, di antaranya Ma’in, Saba’, Himyar, dan Qatban.
5. Peradaban Persia
6. Peradaban Yunani dan Romawi
Peradaban Fir’aun dan Sumeria adalah dua peradaban paling awal yang ada dalam sejarah manusia. Demikian yang dikatakan H.J Wills dalam Short History of the World halaman 62.
Dari beberapa pengertian “kebudayaan” dan “peradaban” tersebut di atas tampak sekali terdapat perbedaan di antara keduanya. Di sini pemikiran yang lebih jelas tentang perbedaan “kebudayaan” dan “peradaban” dapat dijumpai dalam filosof mazhab Jerman, seperti Edward Spranger yang mengartikan “kebudayaan” sebagai segala bentuk atau ekspresi dari kehidupan batin masyarakat. Sedangkan peradaban ialah perwujudan kemajuan teknologi dan pola material kehidupannya.
Dengan demikian, maka sebuah bangunan yang indah sebagai karya arsitektur mempunyai dua dimensi yang saling melengkapi: dimensi seni dan falsafahnya berakar pada kebudayaan, sedangkan kecanggihan penggunaan material dan pengolahannya merupakan hasil peradaban. Dengan kata lain, kebudayaan ialah apa yang kita dambakan, sedangkan peradaban ialah apa yang kita pergunakan. Kebudayaan tercermin dalam seni, bahasa, sastra, aliran pemikiran, falsafah dan agama, bentuk-bentuk spritualitas dan moral yang dicita-citakan, falsafah dan ilmu-ilmu teoritis. Peradaban tercermin dalam politik praktis, ekonomi, teknologi, ilmu-ilmu terapan, sopan santun pergaulan, pelaksanaan hukum dan undang-undang.
Sejalan dengan pemikiran Spranger ini adalah Effat al-Syarqawi yanhg mengartikan “kebudayaan” sebagai khazanah sejarah suatu bangsa/masyarakat yang tercermin dalam pengakuan/kesaksiannya dan nilai-nilainya, yaitu kesaksian dan nilai-nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rohaniah yang dalaam, bebas dari kontradiksi ruang dan waktu. Dengan kata lain, “kebudayaan” adalah struktur intuitif yang mengandung nilai-nilai rohaniah tertinggi, yang menggerakkan suatu masyarakat melalui falsafah hidup, wawasan moral, citarasa estetik, cara berpikir, pandangan dunia (weltanschaung) dan sistem nilai-nilai.
Adapun “peradaban” ialah khazanah pengetahuan terapan yang dimaksudkan untuk mengangkat dan meninggikan manusia agar tidak menyerah terhadap kondisi-kondisi di sekitarnya. Di sini ‘peradaban’ meliputi semua pengalaman praktis yang diwarisi dari satu generasi ke generasi lain. Peradaban tampak dalam bidang fisika, kimia, kedokteran, astronomi, ekonomi, politik praktis, fiqih mu’amalah, dan semua yang berkaitan dengan penggunaan ilmu terapan dan teknologi.

Peradaban Islam

Kaitannya dengan pengertian-pengertian tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan “peradaban Islam”, menurut Muhammad Husein Abdullah, adalah “sekumpulan pandangan tentang kehidupan menurut sudut pandang Islam”. Pengertian yang lain menyebutkan bahwa “peradaban Islam” adalah peradaban orang-orang Muslim atau peradaban manusia yang diilhami, dilandasi oleh keyakinan Islam. Atau dengan pengertian yang lain, “peradaban Islam” adalah pencapaian hasil budi kaum muslimin dalam sejarah.
Adapun yang menjadi orientasi kebudayaan di dunia Islam adalah perbedaan antara alam kosmis, transendental, tatanan keduniaan, serta kemungkinan untuk mengatasi ketegangan yang inheren dalam perbedaan ini berdasarkan ketaatan sepenuhnya pada Tuhan dan kegiatan keduniaan –terutama sekali, kegiatan politik dan militer; unsur universirtas yang kuat dalam definisi tentang komunitas Islam; pemberian akses otonom bagi seluruh warga komunitas untuk memperoleh atribut-atribut tatanan transendental dean keselamatan (salvation) melaljui ketaatan terhadap Tuhan; cita-cita ummah, komunitas politik-keagamaan dari setiap pemeluknya, dan gambaran mengenai penguasa sebagai penegak cita-cita Islam, mengenai kemurnian ummah, dan kehidupan komunitas.
Berangkat dari pengertian “peradaban Islam” di atas maka berbeda dengan Islam yang skaral, tetap dan abadi, peradaban Islam betapapun besar dan hebatnya, adalah bersifat profan, berkembang dan tidaklah suci. Peradaban Islam, tetaplah seperti peradaban lain, yakni tidak bebas dari kelemahan.
Hal tersebut dapat dibuktikan ketika kita flashback ke masa lalu, di mana Nabi Muhammad saw. Mampu menyusun kekuatan baru untuk melakukan reformasi peradaban secara total mulai dari ideologi, teologi, sampai kepada kultural dan hasilnya sangat mengesankan. Kemudian usaha Beliau itu dilanjutkan oleh para penguasa Muslim melalui fondasi banguan teologi yang kokoh, penguasaan dan pengembangan sains atas dasar semangat iqra’ dan amal shaleh. Atas dasar itu, sejarah dan khazanah kita di masa lampau –terutama sejak pemerintahan Nabi Muhammad saw.di Madinah hingga tahun 1250 M yang ditandai dengan berakhirnya masa kejayaan Spanyol Islam di daratan Eropa- umat Islam mampu mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang berperadaban tinggi.
Namun demikian, seiring dengan pasang surutnya sebuah peradaban, peradaban Islam pun pernah mengalami masa-masa kejayaan meskipun kemudian mengalami masa kemunduran. Jika pada zaman Abbasiyah umat Islam mampu menjadi sumber ilmu pengetahuan serta menjadi kiblat dunia , termasuk Barat, maka saat ini umat Islam hanya menjadi konsumen dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan masyarakat Barat. Peradaban Baratlah yang saat ini memberikan kontribusi besar bagi kehidupan manusia secara umum dan bahkan cenderung menghegemoni peradaban lainnya, termasuk Islam.

Pendidikan Islam

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw. adalah surah Al-‘Alaq 1-5 dan wahyu yang kedua adalah surah Al-Muddatsir 1-7. Menurut Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, dalam kedua wahyu yang mula-mula turun itu dapat diambil kesimpulan, bahwa pendidikan dalam Islam terdiri dari empat macam:
1) Pendidikan keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena Tuhan itu Mahabesar dab Mahapemurah; sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.
2) Pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Alam akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membasnya, sedangkan mereka dahulu belum mengetahuinya.untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat
3) Pendidikan akhlak dan budi pekerti, yaitu si pendidik hendaklah suka memberi/mengajar tanpa mengharapkan balasan dari orang yang menerima pemberian itu, melainkan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridaanNya. Bagitu juga si pendidik harus berhati sabar dan tabah dalam melakukan tugasnya.
4) Pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan, bersih pakaian, bersih badan dan bersih tempat kediaman. Terutama si pendidik harus bersih pakaian, suci hati dan baik budi pekertinya, supaya menjadi contoh dan tiru teladan bagi anak-anak didikannya.

Komponen-Komponen Pendidikan

Ada asumsi yang mengatakan bahwa gurulah yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan peserta didik, guru yang profesional akan menelorkan murid yang profesional juga sebaliknya guru yang bukan profesional akan menjejaskan keberhasilan anak didik. Sementara asumsi lain mengatakan bahwa peran serta orang tua sangat dominan, orang tua yang perhatian terhadap pendidikan anaknya dan selalu memberikan bimbingan sangat besar kemungkinankberhasilan anaknya. Adapula yang mengatakan miliu sengat berpengaruh terhadap peserta didik, miliu pedagang mencerdaskan ilmu pasti seperti aritmatika sosial dan ekonomi. Menurut Rosleny Marliany, ada sembilan komponen yang sangat penting dan wajib ada dalam pendidikan, yaitu:
1) Para pendidik;
2) Para murid atau anak didik;
3) Materi pendidikan;
4) Perbuatan mendidik;
5) Metode pendidikan;
6) Evaluasi pendidikan;
7) Tujuan pendidikan;
  Alat-alat pendidikan;
9) Lingkungan pendidikan.
Dari sembilan komponen di atas, komponen yang terakhir adalah objek kita. Lingkungan kondusif bagi peserta didik adalah lingkungan yang bernuansa pendidikan seperti sistem pondok pesantren. Keseharian peserta didik diwarnai dengan proses pendidikan 24 jam. Tidak hanya pendidikan kognitif dan psikomotorik tetapi disempurnakan lagi dengan pendidikan afektif yang lebih menjurus kepada pendidikan tingkah laku.
Pondok pesantren adalah sebuah kebudayaan dan juga sebuah peradaban, maka lingkungan pesantren adalah lingkungan yang berbudaya dan beradab. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa lembaga-lembaga pendidikan non pesantren juga menerapkan sistem yang sama hanya saja sebatas jam kurikuler dan jam ekstra kurikuler.
Hanya saja budaya dan peradaban di pesantren sangat dipengaruhi oleh letak geografis dan para pengasuhnya sehingga kebudayaan dan peradaban yang ada di pesanten menonjolkan kebudayaan dan peradaban setempat. Tak ayal lagi kalau alumni pesantren Jawa akan membawa kebudayaan Jawa dan mengasimilasikannya dengan budaya di tempatnya.
Situasi tertentu seperti ini juga harus diperhatikan karena pertumbuhan peserta didik akan dipengaruhi oleh situasi-situasi di mana dan di waktu mana ia berada.
Lebih lanjut, Rosleny Marliany menyebutkan bahwa: Perubahan menyangkut materiil dan struktur fisiologis sanga dipengaruhi oleh aspek-aspek tertentu yang saling berhubungan. Adapaun aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi:
1) Kondisi interaksi kepribadian anak;
2) Usia dan mental anak;
3) Pola-pola pertumbuhan yang dipengaruhi oleh situasi-situasi tertentu;
4) Adaptasi individu dengan lingkungannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan dan kebiasaan.
2. Peradaban adalah kumpulan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif.
3. Peradaban Islam adalah pencapaian hasil budi kaum Muslimin dalam sejarah yang diilhami, dilandasi oleh keyakinan Islam.
4. Pendidikan Islam pertama ada empat, yaitu:
? Pendidikan keagamaan
? Pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah
? Pendidikan akhlak dan budi pekerti
? Pendidikan jasmani.
Saran
Sebagai praktisi pendidikan hendaklah memahami pentingnya kebudayaan dan peradaban yang positif bagi peserta didik. Pilihlah untuk mereka kebudayaan peradaban manapun yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Selain itu, sebagai pendidik Muslim, tidak cukup memilihkan akan tetapi lebih dari itu adalah mengaplikasikan dan mengimplementasikannya dalam proses pendidikan.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Penj. Samson Rahman, Jakarta, Akbar Media, 2010.
Al-Syarqawi, Effat, Filsafat Kebudayaan Islam, Penj. A. Rofi’ Usmani, Bandung, Pustaka, 1986.
Eisenstadt, S.N, Revolusi Transformasi Masyarakat, Penj. Chandra Johan, Jakarta, Rajawali, 1986.
Elisanti dan Rostini, Tinitin, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII IPS, Jakarta, Indradjaya, 2007.
Marliany, Rosleny, Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia, 2010.
Maryati, Kun dan Suryawaty, Juju, Seri Pendalaman Materi Sosiologi SMA dan MA Siap Tuntas Menghadapi Ujian Nasional, Jakarta, Erlangga, 2008.
Huntington, Samuel P, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, Penj. M. Sadat Ismail, Yogyakarta, Qalam, 2004.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Raja Grafindo,2007.
Waridah Q, Siti dkk, Sosiologi untuk SMA Kelas II, Jakarta, Bumi Aksara, 2005.
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Hidakarya Agung, 1989.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar